Sastra Kilat: Bermain dengan Ide Sekelebat

Tutur

Semuanya bermula dari terhentinya seluncuran saya sejenak di halaman online majalah Wired. Very Short Stories: 33 Writers. 5 Designers. 6-word science fiction. Saya pun penasaran, seperti apa sih bikin cerita hanya dalam 6 kata? Tak dinyana contoh pertamanya menghantam imajinasi saya dengan batu-bata emas.

For sale: baby shoes, never worn.

Kalimat itu dikarang oleh Ernest Hemingway di tahun 1920an, yang bertaruh 10 dollar dengan teman-temannya kalau ia mampu mengarang cerita ‘lengkap’ hanya dalam 6 kata. The rest, they say, is history.

Menurut majalah Wired, Hemingway merasa itu adalah karya terbaiknya. No kidding. Pertama kali membacanya, saya terperangah melihat bagaimana hanya dalam enam kata daya khayal saya dipermainkan dan emosi saya diaduk-aduk. Kesan yang paling kuat dari cerita ini, menurut saya, justru ada pada kata-kata yang tak dituangkan penulisnya, pada ruang kosong yang disediakan Hemingway antara makna-makna dan asosiasinya dalam pikiran. Genius, saya hanya bisa mendesah. Bloody genius.

Yang menarik saya kepada gaya penceritaan semacam ini, akhirnya, adalah cerminannya terhadap kehidupan manusia: Tidak pernah lengkap, selalu ada yang ingin ditanyakan, tanpa pernah bisa terjawab.

Tentu ada sisi pragmatis dari keputusan saya mencoba-coba terjun dalam ranah penulisan flash fiction. Saya kerap merasa tidak pernah punya waktu yang cukup untuk menyelesaikan sebuah cerpen, apalagi novel; Padahal bejibun ide-ide yang bertebaran di kepala saya, kebanyakan hanya berupa sepenggal-sepenggal adegan terpisah seperti trailer film. Jadilah format mikro seperti ini yang saya rasa cocok sebagai medium tumpahan kreativitas saya.

* * *

Lalu cerita seperti apa yang akan saya tampilkan di “Sastra Kilat” ini? 6 kata juga? Tidak ada standar baku yang pasti, sebenarnya. Ada yang membuat cerpen dengan batas maksimal 100, 500, atau 1000 kata. Ada yang menulis resensi musik atau film dengan 20 kata atau dalam bentuk haiku. Ada yang menceritakan pengalaman pribadi dalam 1 kalimat. Saya mencoba untuk tidak rigid dan hanya berpegang pada 2 hal yang saya rasa adalah esensi flash fiction:

  • Menceritakan sebanyak selengkap mungkin peristiwa dengan sesedikit mungkin kata
  • Menulis sesuatu yang bisa dibaca dalam sekejap, tapi akan direnungkan semalaman

* * *

Satu hal yang masih mengganjal saya sampai sekarang adalah ini: Saya merasa sendirian. Saya memang belum mengais-ngais seluruh komunitas sastra di dunia nyata ataupun maya, tapi saya kira jenis penulisan ini masih belum populer. Orang yang tahu akan flash fiction-pun belum tentu berminat juga menuliskannya.

Tapi saya mencoba optimis dengan berkaca pada sejarah pribadi. Tanpa bermaksud menyombongkan diri sebagai ’senior’ atawa ‘tua’, saya ingat partisipasi saya dalam sebuah cikal-bakal novel kolaboratif yang waktu itu agaknya belum ditemukan di tempat lain di ranah maya Indonesia; Waktu itu sekitar tahun 1997-98 (saya agak lupa), di sebuah forum lawas bernama IndoGamer (kini sudah tewas, forum yang ada sekarang tampaknya hanya sama dalam nama), yang prototipnya dinamakan CHIBI alias CHerIta BerantaI.

CHIBI awalnya konyol dan berantakan sekali, tapi coba lihat sekarang: Banyak forum Indonesia yang mempunyai ruang khusus (dan aturan yang lebih jelas dan tegas) bagi membernya untuk membuat cerita bersama-sama, dan… tentu saja, salah satu pelopor situs khusus cerita kolaboratif bergaya web 2.0 bernama Cerpenista (meski yang ini kayaknya punya jalur evolusi terpisah), buah karya blogger Herman Saksono yang kini sudah didukung penuh oleh salah satu provider blog lokal, dagdigdug.

Saya belum ingin muluk-muluk mengatakan kalau blog ini bertujuan untuk mempopulerkan genre flash fiction di Indonesia. Toh saya lihat sudah ada beberapa blog terkenal yang sekali-dua kali menulis cerita super-pendek yang bisa dikategorikan sebagai flash fiction. Yang ingin saya lakukan, setidaknya untuk saat ini, hanyalah tetap berkarya sembari terus mencari satu demi satu sahabat dengan minat yang sama di sepanjang nafas blog ini dan siapa tahu kelak juga diakuisisi oleh blog hosting ternama. Adakah anda yang membaca di sana termasuk salah satu di antaranya? :)

NB: Saya baru sadar kalau “flashlit”, alamat blog ini, bisa dijadikan plesetan dari kata “flashlight”. Yah, semoga blog ini bisa menjadi lampu sorot bagi pembacanya, whatever that means. :P

-Catshade

Comments

  • toso 1:01 pm on Minggu, 26 Oktober 2008 | #

    tak sengaja tengah melakukannya

    ~pendek kan?

  • Catshade 1:50 pm on Minggu, 26 Oktober 2008 | #

    Mau ikutan gabung juga? ;)

  • Leo 5:26 pm on Minggu, 26 Oktober 2008 | #

    andre…andre… pikiranku ingin turut bermain dalam imaji kata-kata…. boleh gabung hehe???

  • Catshade 5:59 pm on Minggu, 26 Oktober 2008 | #

    @Leo:

    Daftar dulu jadi user di wordpress.com (gak harus bikin blog), trus tulis e-mail yang dipake buat daftar itu di sini. Nanti gw add…

  • toso 8:58 am on Senin, 27 Oktober 2008 | #

    pengen sih, tp kontennya nanti bisa sama dengan blog gue :D gimana tuh? :p

  • SHanna 9:07 am on Senin, 27 Oktober 2008 | #

    Andre ini Shanna…mau ikutan dong Ndre…ada persyaratannya nggak ya?

  • Catshade 7:00 pm on Senin, 27 Oktober 2008 | #

    @toso:

    Wah, ya sudah kalo gitu… tetep nulis di sana saja. :D

    @shanna:

    Asal sudah paham flash fiction itu seperti apa, rasanya ndak perlu ada persyaratan apa-apa lagi kok. Klo mau gabung, ikutin aja cara daftarnya dulu kyk yang gw bilangin ke Leo di atas.

  • toso 4:16 pm on Rabu, 29 Oktober 2008 | #

    Andre,
    gue curiga tags-nya bisa jadi variabel yang mengalangi imajinasinya :D

  • Mi Chan 7:29 pm on Jumat, 12 Desember 2008 | #

    Humm?

  • Mi Chan 7:37 pm on Jumat, 12 Desember 2008 | #

    Jadi kepinginn..gmna gmna?

  • pay jarot sujarwo 3:56 pm on Selasa, 13 Januari 2009 | #

    pada akhirnya kita akan tau, siapa yang akan mati terbunuh dan berhasil tidur dengan perempuan yang kita rebutkan. ya, aku pasrah ketika harus kau potong-potong. dan selanjutnya kau setubuhi mayatku tanpa harus menyentuh perempuan yang kita perebutkan

  • Asep Sofyan 10:06 pm on Selasa, 20 Januari 2009 | #

    Aku nyasar di blog ini, lalu pergi dengan komentar, “Suatu saat, mungkin aku kembali.”


Leave a Comment